F.I.L.M. 4 huruf itu pastilah sudah sangat tidak asing lagi terdengar ditelinga kita semua. Setiap orang sepertinya sudah pernah menonton film, meskipun sekali dalam seumur hidupnya. Bagi sebagian orang, film mungkin hanya sebagai sebuah hiburan belaka yang dengan sangat mudah didapat dan dinikmati, namun sebenarnya rentetan terciptanya sebuah film tidaklah segampang kita menontonnya yang umumnya berdurasi sekitar 2-4 jam.
Terciptanya sebuah film harus melalui beberapa tahapan. Biasanya sebuah film berawal dari pembuatan naskah, mencari penyandang dana, shooting, editing, konferensi pers, pemutaran perdana (gala premiere) yang mewah, kemudian barulah sebuah film dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Jika dilihat dari deretan pembutan film tersebut, maka sepertinya tidaklah sebanding dengan durasi sebuah film yang hanya berkisar beberapa jam saja, sedangkan pembuatannya bisa berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Tidak heran jika kita menyebut film sebagai sebuah karya seni terbesar umat manusia.
Di Indonesia, masuknya film dari negara luar (Amerika misalnya) sangatlah mudah dan bahkan waktu pemutaran film hampir bersamaan dengan pemutaran film di negara asalanya. Jika dilihat seperti itu maka dunia perfilman di Indonesia seharusnya berkembang sepesat di negara-negara luar. Namun, jika dibandingkan dengan Thailand saja produksi film di Indonesia masih sangat jauh tertinggal apalagi jika kita bandingkan dengan Hollywood atau juga Bollywood. Hal ini mungkin disebabkan oleh besarnya minat masyarakat yang hanya suka menikmati, bukannya memproduksi. Atau juga kurangnya dukungan dari pihak terkait terhadap sineas-sineas yang ingin terjun di dunia film.
Sekitar awal tahun 2000-an dunia per-film-an di negara kita terbangun dari tidur panjangnya. Ini dibuktikan dengan munculnya sebuah film bertemakan cinta karya sineas muda Rudy Soedjarwo, yaitu Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Sejak itulah dunia perfilman di Indonesia mulai bergeliat sedikit demi sedikit. Beberapa sutradara muda mulai mendapat dorongan dengan munculnya film tersebut. Tidak berselang lama lahirlah film yang betemakan horor, yaitu Jailangkung. Tidak hanya berkutat pada pada tema cinta atau horor saja, Nia Dinata, seorang sineas muda mencoba membuat film yang bertemakan pembauran etnik Tiong Hua yaitu Cha Bau Kan.
Setelah berselang beberapa tahun, sekitar tahun 2005, Riri Riza dan Mira Lesmana mencoba membuat sebuah film yang cukup fenomenal dengan tema perjuangan mahasiswa di era 1960-an. Sosok yang diangkat dalam film tersebut adalah Soe Hok Gie yang dianggap dapat mewakili idealisme seorang mahasiswa terhadap perjuangannya, walaupun banyak pihak yang menyayangkan bahwa sosok Gie di film tersebut lebih flamboyan dibanding yang aslinya. Namun ini merupakan suatu terobosan dalam dunia perfilman di Indonesia saat ini, karena dapat dikatakan hampir seluruh film Indonesia yang ada hanya bertemakan cinta atau mistik saja. Akan tetapi perlu diingat bahwa setiap film pastinya memiliki pesan yang ingin disampiakan kepada penikmatnya yang mencerminkan idealisme sang pembuat film tersebut.
Namun, perjalanan dunia perfilman di Indonesia tidak hanya sampai disitu. Pada sekitar penghujung tahun Read more »
Filed under: Film, Gaya Hidup | Tagged: 30 Maret, AADC, Bioskop, Film, Garin Nugroho, Hari Film Nasional, Sinema | 12 Comments »