Sejarah Mutilasi

Mutilasi adalah aksi yang menyebabkan satu atau beberapa bagian tubuh (manusia) tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya. Yang termasuk mutilasi misalnya amputasi, pembakaran, atau flagelasi. Dalam beberapa kasus, mulitasi juga dapat berarti memotong-motong tubuh mayat manusia. Di kalangan perempuan yang jadi prajurit perang, biasanya payudara sebelah kanan dipotong guna memperkasakan mereka dalam medan perang.

Perilaku mutilasi ternyata telah berlangsung selama ribuan tahun. Menurut catatan sejarah, mutilasi berlangsung sejak 100 SM di Amazon, Amerika Selatan. Waktu itu di suku-suku Amazon Read more »

Ada Apa Dengan Perfilman Indonesia? (Sebuah Refleksi Hari Perfilman Nasional)

filmF.I.L.M. 4 huruf itu pastilah sudah sangat tidak asing lagi terdengar ditelinga kita semua. Setiap orang sepertinya sudah pernah menonton film, meskipun sekali dalam seumur hidupnya. Bagi sebagian orang, film mungkin hanya sebagai sebuah hiburan belaka yang dengan sangat mudah didapat dan dinikmati, namun sebenarnya rentetan terciptanya sebuah film tidaklah segampang kita menontonnya yang umumnya berdurasi sekitar 2-4 jam.

Terciptanya sebuah film harus melalui beberapa tahapan. Biasanya sebuah film berawal dari pembuatan naskah, mencari penyandang dana, shooting, editing, konferensi pers, pemutaran perdana (gala premiere) yang mewah, kemudian barulah sebuah film dapat dinikmati oleh masyarakat umum. Jika dilihat dari deretan pembutan film tersebut, maka sepertinya tidaklah sebanding dengan durasi sebuah film yang hanya berkisar beberapa jam saja, sedangkan pembuatannya bisa berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun. Tidak heran jika kita menyebut film sebagai sebuah karya seni terbesar umat manusia.

Di Indonesia, masuknya film dari negara luar (Amerika misalnya) sangatlah mudah dan bahkan waktu pemutaran film hampir bersamaan dengan pemutaran film di negara asalanya. Jika dilihat seperti itu maka dunia perfilman di Indonesia seharusnya berkembang sepesat di negara-negara luar. Namun, jika dibandingkan dengan Thailand saja produksi film di Indonesia masih sangat jauh tertinggal apalagi jika kita bandingkan dengan Hollywood atau juga Bollywood. Hal ini mungkin disebabkan oleh besarnya minat masyarakat yang hanya suka menikmati, bukannya memproduksi. Atau juga kurangnya dukungan dari pihak terkait terhadap sineas-sineas yang ingin terjun di dunia film.

Sekitar awal tahun 2000-an dunia per-film-an di negara kita terbangun dari tidur panjangnya. Ini dibuktikan dengan munculnya sebuah film bertemakan cinta karya sineas muda Rudy Soedjarwo, yaitu Ada Apa Dengan Cinta (AADC). Sejak itulah dunia perfilman di Indonesia mulai bergeliat sedikit demi sedikit. Beberapa sutradara muda mulai mendapat dorongan dengan munculnya film tersebut. Tidak berselang lama lahirlah film yang betemakan horor, yaitu Jailangkung. Tidak hanya berkutat pada pada tema cinta atau horor saja, Nia Dinata, seorang sineas muda mencoba membuat film yang bertemakan pembauran etnik Tiong Hua yaitu Cha Bau Kan.

Setelah berselang beberapa tahun, sekitar tahun 2005, Riri Riza dan Mira Lesmana mencoba membuat sebuah film yang cukup fenomenal dengan tema perjuangan mahasiswa di era 1960-an. Sosok yang diangkat dalam film tersebut adalah Soe Hok Gie yang dianggap dapat mewakili idealisme seorang mahasiswa terhadap perjuangannya, walaupun banyak pihak yang menyayangkan bahwa sosok Gie di film tersebut lebih flamboyan dibanding yang aslinya. Namun ini merupakan suatu terobosan dalam dunia perfilman di Indonesia saat ini, karena dapat dikatakan hampir seluruh film Indonesia yang ada hanya bertemakan cinta atau mistik saja. Akan tetapi perlu diingat bahwa setiap film pastinya memiliki pesan yang ingin disampiakan kepada penikmatnya yang mencerminkan idealisme sang pembuat film tersebut.

Namun, perjalanan dunia perfilman di Indonesia tidak hanya sampai disitu. Pada sekitar penghujung tahun Read more »

Hari Ulang Tahun Yang Sangat Menyenangkan

kadoHari ini 30 Maret 2009, bertepatan dengan hari ulang tahunku. Aku sebenarnya berencana untuk melaluinya sama seperti hari-hari biasa saja, namun ternyata sangat berbeda dengan yang aku perkirakan. Padahal aku cuma mengira untuk melaluinya bersama pacarku untuk lunch bareng seperti biasa, ternyata aku mendapatkan lebih dari biasanya.

Pagi tadi aku bangun tidur dan beraktifitas seperti biasa. Sebelum ke Banjarmasin aku bermaksud untuk mengambil bajuku di tukang jahit dekat rumah, ternyata dia ga ada. Terpaksa aku pulang dengan tangan hampa. Tapi aku pikir sudahlah, ya nantinya dia juga akan kembali. Setelah itu aku ke Banjarmasin untuk revisi skripsiku yang sudah [teramat sangat] lama tertunda karena berbagai macam kesibukan. Pas lagi on the way aku dapat SMS dari si dia, ternyata isinya bilang kalo pagi itu dosen dia ga masuk. Hatiku mulai tersenyum saat tau kalau dosennya ga masuk, karena paling tidak akan ada banyak waktu untuk kami bertemu.

Setiba aku di kampus aku langsung nyari dosenku buat revisi. Sepertinya ini memang hari keberuntunganku karena saat dosenku liat skripsiku malah langsung disetujui revisi-ku padahal aku cuma utak-atik sedikit boanget dari yang diperintahkan beliau. Yang lebih menyenangkan lagi tuch dosen bilang kalau jangan bilang siapa-siapa kalau dia ga liat dan ga telaah skripsiku. Kata beliau setuju-setuju aja. Otomatis aku senang dan pengen ketawa liat tingkah tuch dosen (maafin Abdi ya, Bu…;p).

Pas hampir pukul 12 aku ketmu sama My Lovely Angel. Trus aku ngajakin dia lunch di luar. Muter-muter di Banjarmasin buat nyari tempat lunch, eh malah akhirnya makan di salah satu rumah makan lesehan di daerah Sultan Adam. Biasanya kalo orang makan di sana pasti milih menu ikan bakar atau goreng, tapi namanya juga ridiculous couple yang dimakan malah nasi goreng (memang benar-benar aneh….;p). Setelah puas ma’em Read more »

Gothic itu…..

suffering_angele1Gothic sebenarnya bukan hanya aliran musik ataupun style, tapi juga bisa masuk dalam aliran seni, bahkan tidak menutup kemungkinan gothic juga masuk ke dalam wilayah ideologi. Mungkin terlalu banyak orang yang memandang miring para gothess (penganut/pecinta gothic). Kebanyakan orang beranggapan bahwa gothic itu sangat erat kaitannya dengan hal-hal yang berbau satanic, padahal bukanlah demikian kenyataannya. Memang tidak bisa dipungkiri jika para gothess selalu menampakkan dan menonjolkan diri mereka dengan style yang gelap dan kelam. Mungkin dari situlah orang-orang awam menganggap gothic itu terkait dengan satanic, suicidal, kekerasan, atau whatever-lah…………

Nah, setelah muter2 nggak karuan baca komentar Abdi tadi, coba dech sekarang kita tengok kebelakang mengenai sejarah gothic itu sendiri. Kata Gothic sebenarnya berasal dari Visigoth, yaitu nama sebuah suku Barbar dari daratan Jerman yang sudah bikin kocar-kacir kerajaan Romawi, (Sebagai tambahan neeh…. Kaum Visigoth ini pernah dipukul mundur dan dikalahkan oleh para pejuang Muslim saat ekspansi Islam ke Spanyol yang kalau nggak salah pada masa Khalifah Khalid bin Walid). Allahu Akbar…….!!!!!! He…He…He…^_^

Kembali ke…..Laptop, Eh salah…. Kembali ke……Gothic. ;)

Sejak abad ke 12 sampai abad ke 16, gothic berkembang lagi dan mulai memasuki dunia baru yaitu dunia arsitektural. Gaya arsitektural gothic ini biasanya rada2 gelap dan gloomy. Coba saja kita lihat arsitektural Gereja-Gereja dan bangunan-bangunan abad pertengahan, kebanyakannya bergaya gothic. Mesjid-Mesjid di Spanyol dan Andalusia pun tidak luput dari Read more »

Pantai Tanjung Dewa Yang Menawan

AkuKalimantan Selatan sangat kaya akan potensi keindahan alamnya. Setiap orang pasti akan berdecak kagum saat menikmati keindahan alam Kalimantan Selatan. Tidak sedikit para wisatawan dari dalam maupun luar negeri yang telah menginjakkan kaki di bumi Lambung Mangkurat ini dan ingin kembali lagi untuk menikmati keindahan alam Kalimantan Selatan. Selain keindahan alam, keramah-tamahan warganya juga menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan.

Bisa dibilang setiap kabupaten/kota di Kalimantan Selatan memiliki objek wisata andalan. Kabupaen Tanah Laut misalnya, banyak objek wisata yang terdapat di kabupaten ini. Karena letaknya berbatasan langsung dengan laut Jawa, maka tidak heran jika kabupaten Tanah Laut memiliki pantai sebagai objek wisata andalanya. Objek wisata pantai yang cukup terkenal adalah pantai Batakan dan pantai Takisung. Namun, kali ini saya tidak akan membahas tentang dua pantai tersebut. Ada satu pantai yang mungkin hanya sedikit orang saja yang mengetahuinya, padahal potensi keindahan alamnya tidak kalah indahnya dibandingkan dengan pantai-pantai lainnya. Pantai tersebut adalah Pantai Tanjung Dewa.

dsc00889Salah Satu Pemandangan Menuju Pantai Tanjung Dewa

Pantai Tanjung Dewa terletak di Desa Tanjung Dewa Kecamatan Panyipatan Kabupaten Tanah Laut. Hanya dengan menempuh jarak sekitar 100 km dari kota Banjarmasin maka kita sudah tiba di pantai Tanjung Dewa. Jarak yang tidak terlalu jauh ini memungkinkan kita untuk dapat berakhir pekan ke pantai Tanjung Dewa ini kapanpun kita mau. Perjalanan menuju pantai Tanjung Dewa ini sangat tidak membosankan karena kita akan melintasi areal persawahan dan pegunungan yang hijau dan indah. Sangat cocok untuk melepaskan kepenatan terhadap rutinitas harian kita.

dsc00817Beberapa pantai di Kalsel lebih menonjolkan pesona pasirnya, namun pantai Tanjung Dewa sedikit berbeda yaitu dengan keindahan karangnya yang lebih mempesona. Pantai Tanjung Dewa memiliki 2 bagian, ada bagian yang berpasir dan ada juga yang berkarang. Jika kita duduk di atas salah satu karangnya, maka sangat tepat untuk menikmati landscape pantai dan laut secara bersamaan. Tidak hanya itu saja, selain bisa menikmati keindahan laut dan pantai kita juga bisa menikmati keindahan pegunungan dari kejauhan. Saat cuaca cerah lekuk-lekuk gunung akan sangat jelas terlihat.

dsc00821Pemandangan Gunung di Kejauhan

Tidak jauh dari pantai Tanjung Dewa ada terdapat pulau kecil yang biasa disebut warga dengan sebutan Pulau Datu. Di pulau ini terdapat makam seorang wali yang disebut dengan Datu Pamulutan yang sering diziarahi oleh masyarakat. Datu Pamulutan ini bukan nama asli beliau melainkan hanya sebutan/gelar yang diberikan masyarakat karena semasa hidup beliau suka mamulut (cara berburu dengan Read more »

Kampanye Politik Yang Kurang Mendidik

baliho-1Tinggal 1 bulan lagi bangsa kita akan melaksanakan pesta demokrasi. Sebagian orang sudah bersiap-siap untuk menghadapinya, namun sebagian lagi bersikap biasa-biasa saja bahkan ada juga yang tidak peduli akan hal tersebut. Masa kampanyepun sudah dimulai, seluruh Calon Legislatif berlomba mencuri hati rakyat agar memilih mereka nanti pada tanggal 9 April 2009.

Jika kita berjalan mengitari kota, sudah bisa dipastikan kemanapun kita mengarahkan pandangan maka akan terlihat jelas baliho, bendera, ataupun spanduk yang berisi ajakan untuk memilih salah satu Caleg. Semua dari Caleg-Caleg tersebut memujui diri mereka sendiri, semuanya mengaku akan berbuat yang terbaik bagi bangsa (yang dulu-dulu juga gitu, tapi kenyataannya…??). Seolah-olah para Caleg tidak memiliki kekurangan sedikitpun, tapi itulah sudah fitrah kita sebagai manusia yang memiliki banyak kekurangan selalu saja merasa memiliki banyak kelebihan (sepertinya saya juga begitu…:p). Whatever-lah…. yang jelas disini saya tidak ingin membahas mengenai baik ataupun buruknya Caleg, namun yang saya coba ulas adalah masih banyaknya cara kampanye dari para caleg yang kurang mendidik bagi rakyat.

Kita semua tahu bahwa Pemilu kali ini berbeda dengan Pemilu-Pemilu sebelumnya. Cara pemilihan caleg yang dulunya dicoblos, sekarang dicontreng. Tata cara yang demikian ini masih banyak yang tidak mengerti, khususnya masyarakat pedesaan yang jauh dari sumber informasi. Namun tidak menutup kemungkinan masarakat perkotaan juga belum mengerti akan tata caranya. Pihak KPU memang [katanya] sudah gencar melakukan sosialisasi mengenai tata cara pencontrengan. Pihak caleg sendiripun sudah ikut ambil bagian dengan bersosialisasi pada spanduk atau baliho mereka, misalnya “Contreng Saya” atau “Contreng Nomor…”. Ini sebenarnya merupakan pendidikan politik bagi rakyat. Akan tetapi saya sangat menyayangkan masih adanya para Caleg yang Read more »

Janganlah Menghina Agama Lain

lambang-agamaIslam merupakan agam yang Rahmatan lil ‘alamin, yaitu agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Akan tetapi sangat disayangkan, hal ini sepertinya belum sepenuhnya menjadi kenyataan. Masih banyak pihak yang masih merasa tidak nyaman akan keberadaan Islam itu sendiri. Yang demikian ini biasanya disebabkan oleh adanya oknum-oknum (bisa dari orang Islam sendiri ataupun tidak) yang mengatas namakan Islam namun bertingkah dengan sangat tidak Islami. Sangat banyak dari mereka itu yang terang-terangan menghujat dan mencaci kelompok (baca: agama) lain selain Islam. Padahal dalam Al-qur’an (Q.S.Al-An’am: 108) sendiri sudah dijelasakan bahwa sebagai umat Muslim dilarang keras untuk menghujat/menghina agama lain.

Pada ayat tersebut dijelaskan bahwa kita (sebagai umat Islam) sangat dilarang untuk memaki sesembahan orang-orang yang bukan Islam. Menurut ayat tersebut hal ini dapat menjadikannya sebagai bumerang kepada umat Islam sendiri. Orang-orang yang non-muslim pasti tidak akan tinggal diam jika sesembahan mereka dicaci maki oleh orang-orang diluar dari kelompok mereka, paling tidak mereka akan membalas dengan cacian juga. Namun, jika pembalasan yang mereka lakukan lebih dari itu, maka sudah dapat dipastikan sangat merugikan kita sendiri.

Pada kenyataannya, sering terjadi konflik di masyarakat yang bermula dari penghinaan terhadap agama lain. Kalau kita lihat konflik-konflik yang bermula dari penghinaan terhadap agama lain ini biasanya dimulai dari masyarakat awam yang sangat mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka tidak memikirkan bagaimana dampak dari perbuatan mereka itu. Akan tetapi, mereka juga tidak dapat disalahkan sepenuhnya. Para pemuka agama juga ikut ambil bagian dalam hal ini. Para pemuka agama seharusnya memberikan pemahaman yang jelas terhadap ajaran agama yang bersifat eksklusif. Kebanyakan para pemuka agama mengajarkan bahwa agama mereka saja Read more »

Kain Bertuah Dari Kalimantan Selatan

sasiranganJika masyarakat Lampung punya kain Tapis, Jawa punya Batik, Palembang punya Songket, maka masyarakat Kalimantan Selatan punya kain Sasirangan. Kain Sasirangan merupakan kain khas dari daerah Kalimantan Selatan. Kain Sasirangan sudah ada sejak zaman Kerajaan dahulu kala di Kalimantan Selatan, yaitu sekitar abad ke-17. Masyarakat Banjar percaya bahwa kain Sasirangan tidak hanya sebatas pakaian atau kain biasa saja, namun memiliki nilai sakral dan nilai magis yang tinggi. Kata Sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya atau dalam istilah menjahit disebut dengan dijelujur. Menurut cerita orang tua, dulunya Sasirangan digunakan sebagai pakain yang dipakai dalam upacara-upacara adat atau juga untuk menyembuhkan orang yang sakit.

Menurut cerita rakyat masayarakat Banjar, kain Sasirangan yang pertama dibuat pada masa kerajaan Negara Dipa. Pada mulanya kain Sasirangan disebut dengan kain Langgundi, yaitu kain tenun yang berwarna kuning. Kain Langgundi merupakan kain yang digunakan sebagai bahan untuk membuat pakaian harian seluruh warga kerajaan Negara Dipa. Dikisahkan pada saat itu Patih Lambung Mangkurat sedang bertapa menggunakan lanting untuk mencari seorang raja untuk kerajaan Negara Dipa. Ketika sedang bertapa, Patih Lambung Mangkurat mendengar suara perempuan yang menanyakan maksudnya dan diapun menjelaskan maksud pertapaannya tersebut adalah untuk mencari seorang raja di kerajaanya. Suara perempuan itupun mengatakan bahwa raja yang sedang dicari oleh Patih Lambung Mangkurat itu adalah dirinya, namun perempuan itu mengatakan dia hanya akan menampkkan diri jika Patih Lambung Mangkurat memenuhi permintaanya. Perempuan itu meminta Patih Lambung Mangkurat untuk membuatkannya sebuah istana yang megah yang dibangun oleh 40 orang perjaka dan sehelai kain Langgundi yang ditenun oleh 40 orang perawan, yang keduanya itu harus selesai dalam waktu satu hari. Patih Lambung Mangkurat menyetujuinya dan langsung melaksanakanya.

Pada saat yang telah ditentukan, maka perempuan itu menampakkan diri. Perempuan itu keluar dari dalam air dengan cantiknya dengan menggunakan kain Langgundi yang telah ditenun oleh 40 orang perawan. Perempuan itu disebut oleh warga kerajaan Negara Dipa dengan sebutan Putri Junjung Buih, karena muncul dari dalam air yang beriak/berbuih.

pengrajin-sasirangan

Salah Satu Kelompok Pengrajin Kain Sasirangan di Kalsel

Sejak saat itulah warga kerajaan Negara Dipa tidak berani lagi menggunakan kain Langgundi/Sasirangan karena takut kualat terhadap Putri Junjung Buih. Hal ini mengakibatkan banyak pengrajin kain Langgundi yang tidak lagi membuatnya. Meskipun demikian tidak Read more »

Grafitti Sebagai Bukti Eksistensi

grafitti-1Jika kita berjalan-jalan mengitari kota, maka tidak jarang kiranya kita menemukan tulisan-tulisan atau gambar yang terpampang di tembok-tembok pagar ataupun bagunan besar. Tulisan-tulisan atau juga gambar tersebut merupakan hasil karya seni dari manusia (yang jelas yang saya maksud disini bukan tulisan atau juga gambar Caleg yang ikut Pemilu nanti. Hehehe…..). Tulisan ataupun gambar tersebut biasa disebut dengan Grafitti.

Grafiti (juga sering dieja Grafitty atau Grafitti) adalah suatu kegiatan seni rupa yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk dan volume untuk menuliskan kalimat tertentu di atas dinding. Alat yang digunakan biasanya cat semprot kaleng.

grafitti-4Grafitti sebenarnya sudah ada sejak zaman pra-sejarah. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa ini, grafitty digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu. Pada zaman Mesir kuno, Grafitti  juga terlihat pada aktivitas melukis di dinding-dinding Piramida. Lukisan ini mengkomunikasikan alam lain yang ditemui seorang Pharaoh (Fir’aun) setelah dimumikan.

Kegiatan grafiti sebagai sarana menunjukkan ketidak puasan baru dimulai pada zaman Romawi dengan bukti adanya Read more »

Siapa Yang Harus Berhati-Hati….???

40-km2

Sebenarnya saya sudah lumayan lama pengen nulis tentang ini, tapi baru sekarang ada waktu dan baru ingat tentang yang satu ini. Saat saya walking-walking alias jalan-jalan (Hehehe…Aneh banget English-nya) melintasi daerah-daerah tertentu saya melihat adanya rambu-rambu yang bisa dikatakan jarang terlihat di tempat lain karena rambu-rambu seperti ini boleh jadi adalah rambu spesial. Saya menyebutnya spesial karena rambu ini mengatur orang yang membacanya.

Saya punya perasaan yang mengganjal di hati saat saya memperhatikan rambu tersebut. Memang sepertinya rambu ini dipasang di tempat-tempat umum yang memiliki intensitas kepadatan dan memungkinkan kesemrautan yang tidak beraturan. Saya pernah melihat rambu ini terpampang di sekitar lokasi tempat ibadah, sekolah, pasar, dan beberapa tempat keramaian lainnya yang persis beringgungan dengan jalan raya. Jika rambu tersebut dipasang di sekitar area sekolah yang terletak di pinggir jalan raya, maka saya tidak terlalu mempermasalahkannya, apalagi sekolah tersebut adalah Sekolah Dasar atau Read more »